Newsletter



Kamis, 20 Mei 2010

PELAJARAN DARI BIRU (3)


Cetak E-mail
Ditulis Oleh Bung Ferry
Friday, 25 July 2008

Biru ape lagi nih Bung? Biarin, topik gue mengenai biru terus. Kan si Irlan jadi bingung ngajarin anaknye.

Kali ini yang gue bahas Arema. Semua juga tahu bagaimana klub mereka ditata begitu rapih, sehingga menjadi klub pertama yang lolos verifikasi. Semua juga tahu bagaimana dahulu mereka sempat mengarungi kompetisi dengan pendanaan yang didapat hanya dari tiket masuk! Bayangkan, suporter merekalah yang menjadi pemasok dana utama bagi klub. Bayangkan suporterlah yang secara tidak langsung memenuhi gaji bagi para pemainnya. Luar biasa ... like Barcelona.

Tidak usah iri. Dongeng tentang Arema menurut gue justru dimulai oleh Aremania. Coba gali ingatan kita. Aksi mereka menjadi pelopor gerakan suporter yang atraktif di Indonesia. Caranya mendukung membuat daerah-daerah lain tergerak untuk mendirikan kelompok-kelompok suporter dan menirukan gerak dan lagu mereka. Padahal Aremania sendiri bukan merupakan suatu organisasi. Mereka datang sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil dari berbagai daerah, namun ketika di stadion mereka satu komando di bawah pimpinan the conductor Yuli Sumpil.

Jangan tanya mengenai fanatisme mereka. Kemanapun Arema bertanding, mereka tidak hanya selalu mendampingi, tapi hadir mendominasi stadion. Puluhan bis, ratusan motor dan beberapa gerbong kereta menjadi kendaraan yang akrab dengan tur-tur mereka. Meski belakangan sempat terjadi gesekan dengan beberapa kelompok suporter, tapi tidak mengurangi image mereka sebagai suporter yang fanatik dan kreatif.

Fanatisme dan kreativitas mereka jugalah yang akhirnya mengundang datangnya sponsor. Kini mereka betul-betul menjelma menjadi klub yang ditata secara profesional. Tidak mengandalkan APBD. Semua itu didapat dengan proses yang cukup panjang. Dan semua itu didapat karena peran besar suporternya.

The Jakmania juga merupakan fenomena tersendiri bagi dunia sepakbola Indonesia. Kemunculannya menjadi bahan pemberitaan di banyak media. Identik dengan warna oranye, kreativitas kita juga tidak kalah dengan suporter manapun. Bahkan kalo dihitung lagu-lagu the Jak banyak terdengar di hampir seluruh stadion di Indonesia. Kalau di Arema punya seorang the conductor, maka kita punya banyak the composer.

Tapi yang paling unik dari the Jakmania adalah heterogenitas. Jakarta kota terbuka. Segala suku ada di Jakarta. Itu juga yang terlihat di Jakmania. Meski dia dari suku manapun tapi kalo udah ngomong soal Persija, semua satu suara. Fanatisme juga ga kalah. Tahun kemarin di Copa Indonesia, Jakmania menjadi suporter terbanyak dalam memberikan dukungan di partai tandang.

Namun masih ada yang kurang dari semua cerita di atas. The Jakmania sebagai pemain ke-12 Persija ternyata belum bisa menggerakkan hati sponsor untuk menjadi pemasok dana bagi tim Persija. Hingga saat ini PT Persija Jaya masih terus menjajaki kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan dana dari sumber lain. Peluang ke arah sana memang terbuka, apalagi kita sekarang pindah main di Senayan yang tentunya menjadi poin tersendiri untuk mendatangkan sponsor.

Yang pertama tentunya a-board di pinggir lapangan. Kalo di Lebak Bulus, kondisi lapangan yang sempit dan jarak tribun penonton yang tinggi mengurangi animo sponsor untuk naro a-board dengan logonya masing-masing. Beda di Senayan yang nota bene lebih luas dan pandangan lebih terbuka.

Pemasukan lain tentunya diharapkan dari tiket. Lebak Bulus kapasitasnya cuma 10.000 orang. Sementara Senayan untuk tribun bawah mencapai 48.000 orang. Meski belum tentu terisi penuh, tapi paling tidak orang-orang yang selama ini ragu datang karena khawatir tidak kebagian tempat duduk tentunya sekarang berbeda. Belum lagi lokasinya yang di tengah kota Jakarta membuat jaraknya lebih terjangkau masyarakat Jakarta yang selalu dihadapkan pada masalah kemacetan.

Semua ini adalah hitungan di atas kertas. Harapan-harapan itu akan menjadi kosong bila ternyata yang hadir tidak memenuhi kuota. Apalagi kalau terjadi kejadian seperti di Bandung kemarin, bukannya untung malah buntung. Suporter bukannya memberikan kontribusi malah datang jatuhnya sanksi.

Untuk itulah wahai para masyarakat oranye sebangsa dan setanah air. Mari kita tunjukkan peran kita sebagai Pemain ke 12 Persija. Mari kita berikan dukungan penuh pada tim kebanggaan kota Jakarta. Ayo berbondong-bondong kita penuhi Senayan. Ayo beramai-ramai kita tunjukkan kreativitas kita. Ayo kita katakan pada seluruh dunia : PERSIJA DIDADAKU – PERSIJA KEBANGGAANKU – KUYAKIN HARI INI PASTI MENANG.

Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 26 July 2008 )

PELAJARAN DARI BIRU (2)

Ditulis Oleh Bung Ferry
Friday, 25 July 2008

Miris sekali melihat nasib saudara kita Persitara. Setelah bersusah payah mendapatkan posisi di Liga Super, kini mereka dihadapkan pada permasalahan klasik klub-klub di Indonesia ... dana.

Diawali dengan ditolaknya Lebak Bulus sebagai kandang mereka karena tidak memenuhi standar yang telah ditentukan oleh Badan Liga Indonesia, sementara stadion mereka sendiri, Kamal Muara masih dalam rencana perbaikan. Karena hingga batas waktu yang ditentukan mereka tidak bisa menentukan kandangnya, BLI memberikan alternatif untuk menggunakan stadion Gelora Bung Karno atau Jalak Harupat. Pilihan sulit. Biaya sewa GBK sangat besar sementara memilih Jalak Harupat juga membutuhkan biaya tambahan yakni penginapan. Dengan berat hati saudara kita sekota ini terpaksa memilih Jalak Harupat dengan kondisi yang masih tanda tanya bagaimana mendapatkan dana untuk biaya penyelenggaraan.

Mungkin ada kelalaian pada Panpel Persitara, mungkin juga ada kealpaan dalam alternatif yang diberikan BLI. Tapi yang perlu dicatat adalah Persitara kesulitan dana karena APBD yang menjadi masukan terbesar tetap belum turun. Apalagi untuk biaya pertandingan, sedangkan pemainnya hingga kini belum menerima gaji mereka.

Gue bukan mau buka daur hidup tim lain, tapi temen-temen the Jakers harus sadar bahwa permasalahan yang menimpa mereka cepat atau lambat akan dialami juga oleh tim kita Persija. Bagi yang rajin baca koran tentu tau bahwa ada keterlambatan gaji bagi para pemain Persija. Seperti juga Persitara, kita juga masih mengandalkan dana APBD sebagai sumber utama pembiayaan tim. Selama APBD belum turun, tim masih bisa berjalan dengan mengandalkan sponsor yang sudah menjadi langganan tim kita beberapa tahun terakhir. Jumlahnya masih belum mencukupi untuk menutupi biaya keseluruhan. Beruntung Persija mempunyai seorang Manajer Bpk Haryanto Badjuri. Lewat dana pribadi dan relasinya dengan beberapa pengusaha di Jakarta, hingga saat ini Persija belum mengalami nasib seperti saudaranya di Utara. Namun mau bertahan sampai kapan?

Konon mandegnya pencairan dana terhambat SK Mendagri yang melarang penggunaan dana APBD untuk klub-klub profesional. Tapi anehnya di beberapa daerah, mereka tetap bisa menggunakan dana APBD lewat jalur yang masih bisa ditoleransi oleh undang-undang. Jadi kenapa DKI tidak bisa?

Baik Persija maupun Persitara juga mempunyai masalah lain yang sama yakni stadion. Kedua tim ini sama-sama terusir dari stadion yang selama ini menjadi kandang mereka. Persija ‘terpaksa’ menggunakan stadion GBK. Memang biaya penyelenggaraan otomatis membengkak beberapa kali lipat, tapi daripada terlempar dari ibukota? Konsekwensi dari keputusan ini juga berimbas pada the Jakmania. Untuk menutupi biaya pertandingan yang besar, Panpel dengan berat hati terpaksa menaikkan harga tiket masuk, selain mengandalkan pemasukan dari A-board dan sponsor lain.

IRONI! 2 tim ibukota terpaksa bermain di stadion yang bukan menjadi rumah mereka. 2 tim ibukota dihadapi pada masalah pendanaan. Masa sih kita kalah sama (maaf) Sleman, Gresik, Sidoarjo?! Meski berada di kota yang relatif lebih kecil dari Jakarta, tapi mereka bisa bangga karena memiliki stadion besar yang cukup representatif. Padahal APBD DKI konon terbesar di Indonesia. Padahal animo masyarakat Jakarta terhadap sepakbola juga besar.

Jadi the Jakers, janganlah kalian mentertawakan saudara kita di Utara. Jangan karena ulah suporter mereka, kalian tidak bisa melihat segala permasalahan dengan jernih. Sekali lagi masalah rumit yang menimpa mereka cepat atau lambat akan dialami tim kita juga.

Lalu apa dong yang bisa dilakukan para orang oren di seluruh dunia? Silahkan kalian menentukan sendiri langkah kalian. Sebagai pencinta Persija, kalian juga harus peka terhadap masalah yang dihadapi tim. Sekedar meniru kata-kata bijak : JANGAN PERNAH BERTANYA APA YANG TIM PERSIJA BISA BERIKAN PADA KITA, TAPI TANYAKAN APA YANG KITA BISA BERIKAN PADA TIM KEBANGGAAN KITA PERSIJA.

Gue percaya Oren Sejati takkan mati. Oren Sejati kan dukung Persija sepenuh hati. Oren Sejati dukung Persija Ampe Mati.

Beli Karcis Aku Pake Uang Jajan

Walau Harus Kaga Rokok Kaga Makan

Orang Bilang Di Tubuhku Masuk Setan

Aku Yakin Ini Semua Pengorbanan

Persija Jakarta Oooo (4X)

Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 26 July 2008 )

PELAJARAN DARI BIRU (1)

Ditulis Oleh Bung Ferry
Friday, 25 July 2008

Komisi Disiplin benar-benar unjuk gigi. Mereka tidak main-main dalam memberikan hukuman kepada para peserta Liga Super Indonesia yang terbukti melakukan pelanggaran-pelanggaran. Bobotoh Persib tidak diperkenankan menggunakan atribut kebesarannya selama satu tahun di seluruh Indonesia, mereka juga dihukum percobaan selama 6 bulan akibat tindakan mereka melecehkan the Jakmania baik berbentuk spanduk, kaos maupun yel-yel yang mereka kumandangkan. Panpel Persib juga terkena imbasnya. Denda 50 juta akibat dianggap tidak bisa mengamankan pertandingan.

Persija tiba di Bandung pukul 17.00 sore hari. Keluar dari tol seorang Panpel ikut bergabung dalam bis, sementara 2 mobil pribadi dan 1 motor mengawal perjalanan ke tempat penginapan dengan dipandu oleh seorang Polisi. Kita melihat cukup banyak polisi yang ditempatkan di sisi kanan kiri jalan yang dilalui Persija. Di hotel puluhan polisi dan pamswakarsa telah siap mengamankan. Tidak kurang dari 3 mobil polisi, 1 truk dalmas standby di hotel.

Skenario berikutnya, pada hari H Persija berangkat dari hotel menggunakan 2 rantis dengan dikawal 1 truk dalmas dan 1 mobil polisi. Rombongan diarahkan menuju Mapolwil Bandung untuk bergabung dengan Tim Persib yang menggunakan kendaraan kebesarannya. Dari sana Tim Persib dan Persija beriringan menuju stadion. Meski pengawalan super ketat, tapi setiba di stadion tetap saja puluhan bobotoh melakukan pelemparan terhadap rantis yang digunakan tim Persija.

Di stadion yel-yel mengejek tetap berkumandang. Namun di sisi lain kita melihat aksi pelemparan berkurang jauh. Bahkan bila ada yang melempar langsung dikeroyok oleh orang disekitarnya. Niat mereka untuk mengamankan pertandingan nampaknya cukup serius. Tapi itu ternyata cuma sementara. Ketika tertinggal 1-2 lemparan mulai kembali terjadi. Meski tidak mengenai satupun anggota tim Persija namun menimbulkan reaksi keras dari Polisi. Ketika kedudukan 1-3 lemparan semakin menjadi. Di sekitar bangku cadangan Persija tampak banyak sekali botol-botol dan benda-benda lain bertebaran.

Situasi betul-betul tak terkendali ketika penalti Hilton melebar keluar. Bobotoh tak terima dengan kondisi ini. Terjadilah perang antara mereka dengan aparat kepolisian. Selanjutnya .... kalian tahu sendirilah. Persija pulang ke hotel dengan rantis pukul 22.00. Kendaraan yang sama juga digunakan hingga jalan tol, baru dilanjutkan dengan bis menuju Jakarta.

Menurut gue baik Panpel maupun Viking sudah menunjukkan itikad baiknya untuk mengamankan Tim Persija. Bahkan Panglima Viking Ayi Beutik lewat media cetak dan elektronik setempat, menghimbau kepada para bobotoh untuk menghentikan teror terhadap tim lawan. Namun ketika masa yang jumlahnya ribuan sama-sama bergerak melakukan tindakan anarkis, rasanya hanya aparat keamananlah yang sanggup menanganinya.

Kejadian ini sebetulnya bisa terjadi dimanapun dan oleh siapapun. Ingat kejadian di Surabaya, Kediri dan Jakarta. Rasanya tidak pantas kita mencerca mereka sementara kita sendiri pernah mengalami hal serupa. Hukuman yang menimpa Viking seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Apakah kita bisa menjamin penonton Persija besok akan berlaku tertib di Senayan?

Saat ini jauh lebih baik dilakukan koordinasi antara Jakmania dengan Panpel Persija, Komisi Disiplin dan Aparat Keamanan. Hal-hal yang tidak boleh dilanggar harus cepat disosialisasikan ke seluruh anggota. Ingat! Kata-kata ‘bun**’, ‘anji**', dan ‘bang***’ sudah tidak asing lagi karena sering muncul berupa yel, lagu, spanduk ataupun atribut yang digunakan.

Mungkin tidak banyak yang tahu. Saat Persija melakukan ujicoba melawan Persikabo Bogor di stadion Lebak Bulus beberapa waktu yang lalu, ketika pulang kami mendapati bus Persija sudah mengalami retak pada kaca bagian depan akibat lemparan batu. Coba pikir, saat itu kan tidak ada suporter lain selain the Jakmania!

Gue ga bermaksud memojokkan siapapun, tapi kalian semua harus tahu bahwa tahun lalu Panpel Persija mengalami defisit keuangan. Jumlah pemasukan tidak sebanding dengan biaya penyelenggaran sekaligus biaya akibat denda dari Komdis.

Jadi, sekali lagi tidak pantas kita mencaci atau mencela mereka yang terkena hukuman. Justru ini harus menjadi pelajaran kita bersama agar kejadian kemarin tidak terulang dimanapun dan pada siapapun. Rasanya kalau suasana aman tercipta, maka kita akan bisa menyaksikan pertarungan sebenarnya di lapangan tanpa ada rasa waswas akan terjadi kerusuhan. Gue yakin elu semua bisa karena elu semua oren sejati yang tidak mau melihat tim kebanggaannya terkena sanksi. Semoga.

bersambung

Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 26 July 2008 )

CERITA DARI CIKAMPEK

Ditulis Oleh Tirta Lesmana
Friday, 23 April 2010
Pagi itu, Kamis 25 Maret 2010 cuaca sangat cerah dan mendukung untuk melakukan kegiatan, rencana yang sudah matang kami (Jak Cikampek) rencanakan hancur sudah... ketika kami akan menyaksikan pertandingan secara langsung antara PERSIJA JAKARTA VS PERSIB BANDUNG di Senayan. Pagi-nya kami semua kumpul di rumah Wira (Korlap Jak Cikampek) ada yang sibuk make up, sms, dan saling bertelepon,.dari 3 hari sebelum pertandingan kami sudah sibuk mendata dan mencari bis. alhasil, kami pun tidak mendapatkan bis untuk transportasi ke jakarta, karna takut bis hancur!!!!

"kang, bade sewa bis ka jakarta..." kata teman kami yang mencari bis,
"ah... sarieun euy, bisi arancur mobilna!!!" kata supir dan kernet.
kami pun pindah ke lain bis, dan jawaban itu yang sering kami terima... akhirnya pas hari H kami pun tetap bertekad untuk berangkat, ada sekitar 175 Jak Cikampek yang sudah mendaftar ikut nonton ke Jakarta.
kamipun kembali sibuk untuk mencari bis, dan hasilnya ada salah satu PO yang mau disewa, dengan perjanjian "kaca pecah ganti ya."... kami pun menyanggupinya.

4 bis kami sewa, tepat pada pada pukul 12 siang kami pun bersiap-siap jalan menuju Jakarta. dengan kawalan PATROLI dari Polsek Cikampek kami pun di antar hingga depan gerbang tol Cikampek-Cikopo. SAYANGNYA, CUMA SAMPAI DEPAN GERBANG TOL SAJA...
Tidak ada tanda-tanda mencurigakan pada perjalanan kami, karena sudah masuk jalan tol, tapi ketika kami dan rombongan memasuki jalan tol KM 62 Cikampek-Jakarta kami mendapatkan hadangan dari supporter Persib (viking), bukan hanya mereka yang menghadang kami... tampak pula orang-orang berbaju Bonek dan NJ Mania pun ikut menghadang kami.

Tawuran pun terjadi di dalam tol KM 62 Cikampek, Mengakibatkan kemacetan yg sangat panjang menuju arah jakarta. Dalam kejadian tersebut bis yang kami sewa mengalami kerusakan pada bagian kaca depan, belakang, kiri, kanan. anggota Jak Cikampek pun mengalami luka-luka dibagian kepala dan tangan, bukan hanya kami yang menjadi korban. kernet bis pun jadi korban, kernet tersebut mengalami sobekan di bagian perut, dan harus menjalani operasi di RS. Hasan Sadikin Bandung. Setelah beberapa menit (kira-kira 35 menit) tawuran terjadi, datanglah Patroli dari Polisi Jalan Raya dan pihak Polsek terdekat. kami di interogasi satu per satu, dan saya (omen) dibawa ke Polsek Cikampek untuk dimintai keterangan, sementara rekan-rekan yang lain di giring pulang dan tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan. saya lalu protes, dan pihak polsek bersedia menyediakan layar untuk rekan-rekan nobar. akhirnya kami pun semua diangkut pulang. walau hanya nonton di layar rekan-rekan sangat senang. dengat kawalan ketat dari pihak kepolisian acara nobar pun berjalan lancar...

dari jam 6 sore sampe jam 5 pagi saya dimintai keterangan, cape, lelah, lapar, tegang jadi satu.dan dari hasil pemeriksaan, polisi pun bergegas mencari para pelaku yang sudah dipegang data-datanya oleh para buser. para pelaku ternyata sudah pada kabur semua, setelah 2 minggu keadaan sudah mereda, barulah buser polsek Cikampek kembali beraksi, satu per satu pelaku penyerangan di tangkap, awalnya cuma 11 orang yang tertangkap, saya lalu komplain, dan akhirnya esok harinya semua para pelaku ditahan. dari 50 orang yang terciduk, cuma 32 yang dijadikan tersangka. Kini kasusnya sedang ditangani oleh pihak polsek Cikampek...

BAGI KAMI DATANG KESENAYAN ITU TOUR TANDANG BUKAN KANDANG.

JAWA BARAT BELUM TENTU PERSIB!!!!
Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 23 April 2010 )

media oh media

Sudah tidak terhitung berapa kali beritaberita yang tidak jelas kebenarannya atau memang tidak terbukti kebenarannya tentang Persija dan Jakmania terekspose baik itu di media cetak maupun media elektronik. Tidak hanya team dan suporternya yang mendapatkan beritaberita tidak benar, pemain Persija pun tidak luput dari pembicaraan.

Tahun ini saja sudah tidak terhitung beberapa kali pemberitaan tentang Persija dan The Jakmania yang tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan beredar dimedia media. Beritaberita yang ada cenderung melebihlebihkan dari kejadian sebenarnya terjadi, bahkan yang tidak ada sekalipun dengan bahasa yang sedemikian rupa menjadi ada dan menjadi hangat diperbincangkan di masyarakat umum.

Bisa diambil contohnya berita dari salah satu program TV swasta yang mengambil sisi tidak baik dalam suatu kegiatan, dan acara tersebut sangat sukses untuk mengangkat sisi tidak baik dalam diri The Jakmania, karena syutingya dilakukan disaat pertandingan klasik melawan salah satu klub yang dimana selama ini perseteruan kedua belah pihak supporter memang selalu panas dan sarat emosi.

Padahal kalo bisa lebih fair dalam mengangkat sesuatu tentang Jakmania, tidak melulu keributan, rusuh, anarki dan kegiatankegiatan yang merugikan. Kegiatankegiatan seperti baksos, sumbangan untuk korban banjir, penyelenggaraan sunatan massal dan donor darah, kegiatankegiatan siaran radio dan televisi dalam rangka memperkenalkan Persija dan Jakmania seperti tidak pernah terekspose oleh media, yang terjadi dan beredar serta menjadi image dimasyarakat saat ini The Jak rusuh, bikin macet, ributribut bahkan sempat menjadi headline dibeberapa media yang ada. Hal itu menjadi pembentukan opini karena peranan media yang selama ini cenderung lebih suka mengangkat sisi negatif saja tanpa melihat hal positif yang ada.

Ada sesuatu yang menjadi fenomenal pernah terjadi, bagaimana reporter sebuah stasiun berita swasta nasional dengan hebatnya sudah stand by di lokasi yang kemudian menjadi tempat bentrokan pendukung persija yang kemudian menjadi berita headline news bahkan dijadikan berita breaking news saking lakunya berita tersebut dibandingkan dengan beritaberita lain yang ada.

Berita pemain yang sempat heboh terjadi diawal musim ISL tahun ini bergulir dimana striker Bambang Pamungkas yang diawal musim ini sempat diberitakan ingin bermain di klub lain. Dimana isi dalam berita dalam sebuah media cetak yang beredar mengambil sedikit banyak artikel BP yang diambil dari web pribadi BP (www.bambangpamungkas.com) yang berjudulCinta Itu Mengalahkan Segalanyadan oleh penulis berita itu diganti judulnya menjadiBambang Pamungkas Striker Persija Yang Karirnya Mulai Meredup” .

Kekeliruan berita yang terhangat baru terjadi dalam beberapa hari terakhir dimana dalam semua berita media yang ada baik itu media cetak maupun elektronik diberitakanPemain Sriwijaya FC melakukan pemukulan terhadap supporter dari Sriwijaya FC sendiri karena tidak terima dengan yelyel yang dinyanyikan oleh supporter mereka sendirinamun apa yang terjadi di salah satu stasiun swasta yang memiliki taglineterdepan mengabarkanmemuat berita yang tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan dimana isi beritanyasepak bola Indonesia kembali tercoreng akibat ulah jakmania yang terlibat perkelahian dengan pemain sriwijaya fc.. perkelahian disulut karena ulah jakmania yang bernyanyi mengejek pemain sriwijaya... korban luka2 saat ini masih di rawat di RS” padahal jelas-jelas berita tersebut BOHONG BESAR!! (Zni-JO)

Akankah Persija, The Jakmania, dan Pemainpemain Persija yang lain akan mendapatkan berita - berita yang kembali merugikan? Biarkan waktu yang menjawab ini semua.

Good News is Good News not Bad News is Good News.
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 11 May 2010 )

Sabtu, 06 Maret 2010

Jadwal PERSIJA Putaran II

- Rabu, 10 Februari 2010.. Bontang FC di Bontang vs PERSIJA (AWAY)
- Sabtu, 13 Februari 2010.. Persisam Samarinda vs PERSIJA di Samarinda (AWAY)
- Sabtu, 20 Februari 2010.. PERSIJA vs Sriwijaya FC di Jakarta (HOME)
- Rabu, 10 Maret 2010 .. Pelita Jaya vs PERSIJAdi Karawang (AWAY)
- Sabtu, 13 Maret 2010 .. PERSIJA vs Persiwa di Jakarta (HOME)
- Selasa, 16 Maret 2010 .. PERSIJA vs Persipura di Jakarta (HOME)
- Kamis, 23 Maret 2010 .. PERSIJA vs Persib di Jakarta (HOME)
- Rabu, 31 Maret 2010 .. Persik vs PERSIJAdi Kediri (AWAY)
- Sabtu, 3 April 2010 .. Persebaya vs PERSIJA di Surabaya (AWAY)
- Kamis, 8 April 2010 .. PSPS vs PERSIJA di Pakanbaru (AWAY)
- Minggu, 25 April 2010 .. PERSIJA vs Persiba di Jakarta (HOME)
- Sabtu, 1 Mei 2010 .. PERSIJA vs PSM di Jakarta (HOME)
- Sabtu, 15 Mei 2010 .. Persijap vs PERSIJA di Jepara (AWAY)
- Sabtu, 22 Mei 2010 .. Persitara vs PERSIJA di Jepara (AWAY)
- Rabu, 19 Mei 2010 .. Persela vs PERSIJA di Lamongan (AWAY)
- Rabu, 26 Mei 2010 .. PERSIJA vs Persema di Jakarta (HOME)
- Minggu, 30 Mei 2010 .. PERSIJA vs Arema di Jakarta (HOME)
PERSIJA AMPE MATI...!!!!

Ditulis Oleh Bung Ferry
Monday, 01 March 2010
Life Style... atau Gaya Hidup. Itulah kata yg gw kumandangkan ketika disuruh orasi dalam rangka pemilihan Ketua Umum the Jakmania periode 2001-2003. Gw pengen atribut dan merchandise Persija dan the Jakmania jadi pilihan masyarakat Jakarta tuk dipake bepergian kemanapun, acara apapun, dan kegiatan yg kaya gimanapun. Gw pengen atribut oren sering dipake orang ketika dia lari pagi, mo pergi berenang, jalan2 ke mall, berkunjung ke pacar, kerja, sekolah, kuliah, dll. Atribut itu kan bisa kaos, topi, pin, jaket, baju, gelang, sepatu, sendal, stiker, kupluk, jas ujan, dan masih banyak lagi. Setelah gw terpilih, gw langsung wujudin kata2 gw itu dengan rajin bikin kaos2 Persija dan the Jakmania. Waktu itu memang belum banyak yg bikin, paling2 pedagang kaki lima yg asalnya justru dari Jawa Barat.
Nah, ketika gw pergi ke Bekasi kemaren, gw liat fenomena itu bener2 udah terwujud, bahkan lebih. Banyak sekali gw liat sekelompok bocah2 receh (usia 15 taon kebawah) jalan kaki dengan menggunakan seragam oren bertuliskan Persija atau the Jakmania. Komeng, Korwil Bekasi juga bilang ke gw, kalo di Bekasi budayanya emang kaya gitu. Gw liat dengan mata kepala sendiri kalo kelompok2 bocah receh itu ga cuma sekali, tapi banyak kelompok dan tersebar hampir diseluruh kota dan kabupaten Bekasi. Luar biasa kan. Padahal Bekasi itu Jawa Barat loh.

Sejenak gw bangga dengan fenomena ini. Ya, sejenak. Ketika Komeng cerita kalo kelompok2 bocah itu juga tidak jarang berbenturan dengan kelompok yg merupakan pendukung dari klub lain, gw jadi kaget dan berpikir.... sebetulnya mereka pake kaos itu, jalan2 keliling berame-rame, untuk apa? Bangga sebagai pendukung Persija, atau karena ingin perang dengan kelompok lain?

Pikiran gw jadi melayang ke Senayan. Setiap pertandingan Persija, banyak sekali rombongan yg ga msuk ke dalem. Mereka cuma nongkrong2 di depan. Entah nunggu jebolan, atau emang ga niat nonton. Ga sedikit di antara mereka yg maen kartu (entah judi atau enggak), ada yg cuma nyanyi2 di atas bis, ada yg jalan2 keliling nyari kaos, ada yg pacaran, ada yg nyari jodoh, ah pokoknya macem2 lah. Kalo dipikir ngapain mereka jauh2 dateng kalo cuman gitu doang? Banyak diantara mereka yg dateng jauh2 dari kediamannya, dan ga sedikit yg dateng dengan melewati wilayah2 konflik sehingga harus turun dulu dari bis tuk tawuran. TAWURAN... ya kata itu yg jadi momok di setiap pertandingan Persija. Entah itu perkelahian dengan musuh, lawan masyarakat setempat, atau bahkan sesama orang oren. Kalo begini, gw jadi bertanya....SEBETULNYA GAYA HIDUP APA YG SEKARANG MELANDA KITA? Gaya Hidup dengan atribut oren yg gw sebut di atas, atau gaya hidup tawuran?????

Sedikit banyak ada rasa bersalah dalam diri gw. Kenapa ya dulu gw kumandangkan kata PERSIJA SAMPE MATI. Padahal sejarah kata2 itu keluar ketika gw diwawancara oleh salah satu media cetak, dan juga sempat direkam oleh Andi Bachtiar Yusuf yang kemudian dijadikan salah satu bagian dari film pertamanya yg berjudul THE JAK. Gw ditanya ... sampe kapan sih dukung Persija? Ya gw jawab... sampe mati. Kata2 ini yg jadi judul artikel di majalah MTV Trax yang wawancara gw. Majalahnya sendiri juga masih gw simpen ampe sekarang.

Tapi sayang, gw liat kata2 itu salah diartikan oleh mayoritas Persija Lovers sekarang. Mereka mengartikan dengan rela berkorban nyawa dengan bertempur lawan siapapun yg menghadang. Mereka sepertinya bangga kalo dateng ke Senayan dengan bertempur dulu. Mereka makin bangga kalo ada korban yg jatuh di kedua belah pihak. Mereka bangga dan cerita terus di Senayan hingga lupa masuk ke dalam stadion. Mereka lebih bangga pada diri mereka yg begitu militan daripada bangga melihat Persija bertanding. Ah, miris gw......

Wahai the Jakers sebangsa dan setanah air..... Urusan nyawa adalah tanggung jawab kita pada ALLAH. Kita semua dikasi jasad yg begitu sempurna. Kita dllengkapi dengan anggota tubuh yg memudahkan kita tuk menjalani hidup ini. Lalu apa tanggung jawab kita ketika nyawa meninggalkan jasadnya? Apa kita cuma akan bilang... ya ALLAH... aku kembali padamu karena aku berperang melawan manusia ciptaanmu juga. Banyak rekan yg mendahului kita. Tapi apa kita tau? Apa sebenarnya yg diinginkan mereka yg sudah mati? Balas dendam? Hutang nyawa bayar nyawa? Kita tidak akan pernah tau!!! Tapi kita juga jangan SOK TAU!!!

Sekarang tergantung pada kita semua. Bagaimana kita menghormati pengorbanan rekan2 kita. Bagaimana kita menghargai dan menarik hikmah dari pengalamannya. Bagaimana kita menempatkan kematian mereka sebagai sumber inspirasi kita untuk memperbaiki cara2 kita dalam memberikan dukungan pada PERSIJA. Ingat!!! BERANI BUKAN BERARTI MENANTANG!


(Tulisan ini gw buat sebagai rasa hormat gw yg sebesarnya pada ucok the Jak cikarang, Fathul Mulyadi the Jak Ragunan dan masih banyak lagi sodare-sodare yang sudah mendahului kite)...